Home > Askeb III (Nifas) > Post Partum Blues

Post Partum Blues

Nov 22, 2010 1 Comment by lusa

Keadaan dimana ibu merasa sedih berkaitan dengan bayinya disebut baby blues. Penyebabnya antara lain: perubahan perasaan saat hamil, perubahan fisik dan emosional. Perubahan yang ibu alami akan kembali secara perlahan setelah beradaptasi dengan peran barunya.

Gejala baby blues antara lain:

  1. Menangis
  2. Perubahan perasaan
  3. Cemas
  4. Kesepian
  5. Khawatir dengan bayinya
  6. Penurunan libido
  7. Kurang percaya diri

Hal-hal yang disarankan pada ibu adalah sebagai berikut:

  1. Minta bantuan suami atau keluarga jika ibu ingin istirahat
  2. Beritahu suami tentang apa yang dirasakan oleh ibu
  3. Buang rasa cemas dan khawatir akan kemampuan merawat bayi
  4. Meluangkan waktu dan cari hiburan untuk diri sendiri

Ibu merasakan kesedihan karena kebebasan, otonomi, interaksi sosial, kurang kemandirian. Hal ini akan mengakibatkan depresi pasca persalinan (depresi post partum). Depresi masa nifas merupakan gangguan afeksi yang sering terjadi pada masa nifas, dan tampak dalam minggu pertama pasca persalinan. Insiden depresi post partum sekitar 10-15 persen. Post partum blues disebut juga maternity blues atau sindrom ibu baru. Keadaan ini merupakan hal yang serius, sehingga ibu memerlukan dukungan dan banyak istirahat. Adapun gejala dari depresi post partum adalah:

  1. Sering menangis
  2. Sulit tidur
  3. Nafsu makan hilang
  4. Gelisah
  5. Perasaan tidak berdaya atau hilang kontrol
  6. Cemas atau kurang perhatian pada bayi
  7. Tidak menyukai atau takut menyentuh bayi
  8. Pikiran menakutkan mengenai bayi
  9. Kurang perhatian terhadap penampilan dirinya sendiri
  10. Perasaan bersalah dan putus harapan (hopeless)
  11. Penurunan atau peningkatan berat badan
  12. Gejala fisik, seperti sulit bernafas atau perasaan berdebar-debar

Beberapa faktor predisposisi terjadinya depresi post partum adalah sebagai berikut:

  1. Perubahan hormonal yang cepat (yaitu hormon prolaktin, steroid, progesteron dan estrogen)
  2. Masalah medis dalam kehamilan (PIH, diabetus melitus, disfungsi tiroid)
  3. Karakter pribadi (harga diri, ketidakdewasaan)
  4. Marital dysfunction atau ketidakmampuan membina hubungan dengan orang lain
  5. Riwayat depresi, penyakit mental dan alkoholik
  6. Unwanted pregnancy
  7. Terisolasi
  8. Kelemahan, gangguan tidur, ketakutan terhadap masalah keuangan keluarga, kelahiran anak dengan kecacatan/penyakit

Jika ibu mengalami gejala-gejala di atas, maka segeralah memberitahu suami, bidan atau dokter. Penyakit ini dapat disembuhkan dengan obat-obatan atau konsultasi dengan psikiater. Perawatan di rumah sakit akan diperlukan apabila ibu mengalami depresi berkepanjangan.

Beberapa intervensi yang dapat membantu ibu terhindar dari depresi post partum antara lain:

  1. Pelajari diri sendiri
  2. Tidur dan makan yang cukup
  3. Olahraga
  4. Hindari perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan
  5. Beritahukan perasaan Anda
  6. Dukungan keluarga dan orang lain
  7. Persiapan diri yang baik
  8. Lakukan pekerjaan rumah tangga
  9. Dukungan emosional
  10. Dukungan kelompok depresi post partum
  11. Bersikap tulus ikhlas dalam menerima peran barunya

DEPRESI BERAT

Depresi berat disebut juga dengan sindrom depresif non psikotik pada kehamilan sampai beberapa minggu/bulan setelah kelahiran.
Gejala-gejala depresi berat antara lain:

  1. Perubahan mood
  2. Gangguan tidur dan pola makan
  3. Perubahan mental dan libido
  4. Pobhia, ketakutan menyakiti diri sendiri atau bayinya

Penatalaksanaan depresi berat adalah sebagai berikut:

  1. Dukungan keluarga dan sekitar
  2. Terapi psikologis
  3. Kolaborasi dengan dokter
  4. Perawatan rumah sakit
  5. Hindari rooming in dengan bayinya

PSIKOSIS POST PARTUM

Insiden psikosis post partum sekitar 1-2 per 1000 kelahiran. Rekurensi dalam masa kehamilan 20-30 persen. Gejala psikosis post partum muncul beberapa hari sampai 4-6 minggu post partum.
Faktor penyebab psikosis post partum antara lain:

  1. Riwayat keluarga penderita psikiatri
  2. Riwayat ibu menderita psikiatri
  3. Masalah keluarga dan perkawinan

Gejala psikosis post partum sebagai berikut:

  1. Gaya bicara keras
  2. Menarik diri dari pergaulan
  3. Cepat marah
  4. Gangguan tidur

Penatalaksanaan psikosis post partum adalah:

  1. Pemberian anti depresan
  2. Berhenti menyusui
  3. Perawatan di rumah sakit

Referensi
Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 87-96).
Irhami. 2010. Proses Adaptasi Psikologis Ibu Masa Nifas. zikra-myblog.blogspot.com/2010/06/zikra-proses-adaptasi-psikologis-ibu.html Diunduh 19 Oktober 2010 Pukul 08.55 PM
Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (hlm: 63-69).
Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 85-100).
The_wie. 2009. Proses Adaptasi Psikologis Ibu Dalam Masa Nifas. the2w.blogspot.com/2009/10/proses-adaptasi-psikologis-ibu-dalam.html Diunduh 19 Oktober 2010 Pukul 08.55 PM

Kata Kunci

post partum blues, postpartum blues, post partum, post partum blues adalah, postpartum blues adalah, Pengertian post partum blues, kebutuhan istirahat ibu nifas, post partum blus, askeb post partum, psikosis postpartum, askeb post partum blues, makalah post partum blues, psikosa post partum, definisi postpartum blues, makalah postpartum bluss askeb nifas, post partum bluse, istirahat dan tidur pada ibu nifas, apa itu post partum blues, komunikasi Dan konseling ibu menyusui yang depresi post partum, pengertian post partum blue, postpartum blus, nifas post partum blues, apa yg dimaksud dg post partum blue, post partum bloes, aspek menimbulkan tanda gejala depresi postpartum.

Askeb III (Nifas)
© LUSA.web.id   |   Share :  
lusa

About the author

Pengajar dan pendidik aktif di perguruan tinggi di Yogyakarta dan Surakarta. Selain itu, juga seorang praktisi kesehatan di Yogyakarta. Menghabiskan waktu luang berkumpul bersama keluarga (suami & anak) serta menulis di lusa.web.id.

One Response to “Post Partum Blues”

  1. halim says:

    ass mba mksih ya sdh mmbntu buat tgs

Leave a Reply