Home > Askeb II (Persalinan), Askeb IV (Patologi) > Ketuban Pecah Dini (KPD)

Ketuban Pecah Dini (KPD)

Feb 23, 2019 No Comments by lusa

Ketuban pecah dini (KPD) atau ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW) sering disebut dengan premature rupture of the membranes (PROM), yaitu pecahnya selaput ketuban sebelum waktunya melahirkan. Angka kejadian ketuban pecah dini sekitar 4-7 % dari seluruh kehamilan, sering terjadi pada usia kehamilan 28-40 minggu dan 2/3nya terjadi secara spontan.

Faktor Risiko

Ketuban pecah dini dialami oleh ibu hamil dengan usia muda, kehamilan kembar, riwayat kelahiran prematur sebelumnya, infeksi saluran genital.

Komplikasi

Komplikasi KPD meliputi: persalinan dengan induksi; persalinan dengan sectio cesarea (SC); kelahiran kurang bulan; sindrom gawat napas; kompresi tali pusat; khorioamnionitis; abruption plasenta; morbiditas dan mortalitas maternal maupun perinatal.

Diagnosis

Gejala dan tanda (selalu ada) Gejala dan tanda (kadang-kadang ada)Diagnosis kemungkinan
  • Ketuban pecah tiba-tiba
  • Cairan tampak di introitus
  • Tidak ada his dalam 1 jam
  • Amnionitis
  • Cairan berupa lendir darah
  • Pembukaan dan pendataran servik
  • Ada his

Prognosis

Bagi ibu terjadi: infeksi dalam persalinan dan pascapersalinan; partus lama; perdarahan postpartum; intervensi medis; morbiditas dan mortalitas maternal.

Bagi bayi terjadi: prematuritas; prolaps funiculi; hipoksia dan asfiksia; sindrom distress pernapasan (RDS atau Respiratory Distress Syndrome); sindrom deformitas janin; hypoplasia paru janin pada aterm; morbiditas dan mortalitas perinatal

Penanganan Umum

  1. Konfirmasi usia kehamilan, lakukan USG.
  2. Lakukan pemeriksaan inspekulo, nilai cairan yang keluar (bau, warna, jumlah) untuk membedakan dengan urin.
  3. Jika ada perdarahan setelah 22 minggu, jangan lakukan pemeriksaan dalam.
  4. Tentukan ada tidaknya infeksi.
  5. Tentukan tanda-tanda inpartu.

Penanganan Khusus

Konfirmasi diagnosis, meliputi:

  1. Bau cairan ketuban yang khas.
  2. Jika cairan ketuban keluar sedikit-sedikit, tampung cairan yang keluar dan nilai 1 jam kemudian.
  3. Lakukan inspekulo, nilai cairan yang keluar melalui ostium uteri atau terkumpul di forniks posterior.
  4. Jika mungkin, lakukan:
    • Tes lakmus (tes nitrazin). Jika kertas lakmus merah menjadi biru, maka ada cairan ketuban (alkalis). Darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes positif palsu
    • Tes pakis, dengan meneteskan cairan ketuban pada objek gelas dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukan kristal cairan amnion dan gambaran daun pakis.

Penatalaksanaan

  1. Rawat di rumah sakit.
  2. Jika ada perdarahan dengan nyeri perut, curiga solusio plasenta.
  3. Jika ada tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau), berikan antibiotik.
  4. Jika tidak ada infeksi dan kehamilan < 37 minggu.
    • Berikan antibiotik untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin (Ampisilin 4 x 500 mg selama 7 hari ditambah Eritromisin 250 mg per oral 3 kali per hari selama 7 hari.
    • Jangan berikan kortikosteroid jika ada infeksi.
    • Berikan kortikosteroid untuk memperbaiki kematangan paru janin (Betametason 12 mg IM dalam 2 dosis setiap 12 jam atau Deksametason 6 mg IM dalam 4 dosis setiap 6 jam).
    • Lakukan persalinan pada kehamilan 37 minggu.
    • Jika terdapat his dan lendir darah, kemungkinan terjadi persalinan preterm
  5. Jika tidak ada infeksi dan kehamilan > 37 minggu
    • Jika ketuban sudah pecah > 18 jam, berikan antibiotika profilaksis untuk mengurangi risiko infeksi streptokokus grup B.
    • Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam.
    • Atau Penisilin G 2 juta unit IV setiap 6 jam sampai persalinan.
    • Jika tidak ada infeksi pascapersalinan, hentikan antibiotika
  6. Nilai serviks
  7. Amnionitis
    • Berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan.
    • Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam, ditambah Gentamisin 5 mg/kgBB IV setiap 24 jam.
    • Jika persalinan pervaginam, hentikan antibiotika pasca persalinan.
    • Jika persalinan dengan seksio sesarea, lanjutkan antibiotika dan berikan metronodazol 500 mg IV setiap 8 jam sampai bebas demam selama 48 jam.

Sumber Pustaka

Fadlun. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta: Salemba Medika. Hlm: 113-116.
Gahwagi, M., Busaria, M., & Atia, M. 2015. Premature Rupture of Membranes Characteristic, Determinants, and Outcomes of in Benghazi, Libya. Journal of Obstetric and Gynecology . Vol: 5, p 494-504.
Manuaba, I. 2007. Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta: ECG
Rohmawati, N., Fibriana, I. 2018. Ketuban Pecah Dini Di Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran. Higeia Journal Of Public Health Research And Development. Vol.2 No.1. Hlm: 23-32.
Saifudin, BA. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Edisi 1 Cetakan 12. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. M 112-M 115.
WHO. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Pedoman Bagi Tenaga Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI. Hlm: 122-123.
Image, rnpedia.com

Askeb II (Persalinan), Askeb IV (Patologi)
¬© LUSA.web.id   |   Share :  
lusa

About the author

Pengajar dan pendidik aktif di perguruan tinggi di Yogyakarta dan Surakarta. Selain itu, juga seorang praktisi kesehatan di Yogyakarta. Menghabiskan waktu luang berkumpul bersama keluarga (suami & anak) serta menulis di lusa.web.id.
No Responses to “Ketuban Pecah Dini (KPD)”

Leave a Reply