Home > Askeb II (Persalinan) > Kala IV

Kala IV

Aug 21, 2009 32 Comments by lusa

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (Mochtar, 2002).

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup di luar uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan normal atau persalinan spontan adalah bila bayi lahir dengan letak belakang kepala tanpa melalui alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam (Wiknjosastro, 2002).

Kesimpulannya persalinan adalah proses pengeluaran konsepsi yang telah cukup bulan melalui jalan lahir atau jalan lainnya, dengan bantuan atau tanpa bantuan.
Tahapan persalinan adalah :

  1. Kala I : Pembukaan Sevik – 10 cm (lengkap)
  2. Kala II : Pengeluaran janin
  3. Kala III : Pengeluaran dan pelepasan plasenta
  4. Kala IV : dari lahirnya uri selama 1 – 2 jam

Yang dimaksud dengan kala IV adalah 1-2 jam setelah pengeluaran uri.

Asuhan Kala IV meliputi:

  1. Fisiologi Kala IV
  2. Evaluasi Uterus
  3. Pemeriksaan Servik, Vagina dan Perineum
  4. Pemantauan Kala IV

Fisiologi Kala IV

Kala IV adalah kala pengawasan dari 1-2 jam setelah bayi dan plasenta lahir untuk memantau kondisi ibu.

Evaluasi Uterus

Setelah kelahiran plasenta, periksa kelengkapan dari plasenta dan selaput ketuban. Jika masih ada sisa plasenta dan selaput ketuban yang tertinggal dalam uterus akan mengganggu kontraksi uterus sehingga menyebabkan perdarahan.

Jika dalam waktu 15 menit uterus tidak berkontraksi dengan baik, maka akan terjadi atonia uteri. Oleh karena itu, diperlukan tindakan rangsangan taktil (massase) fundus uteri dan bila perlu dilakukan Kompresi Bimanual.

Pemeriksaan Servik, Vagina dan Perineum

Untuk mengetahui apakah ada tidaknya robekan jalan lahir, maka periksa daerah perineum, vagina dan vulva. Setelah bayi lahir, vagina akan mengalami peregangan, oleh kemungkinan edema dan lecet. Introitus vagina juga akan tampak terkulai dan terbuka. Sedangkan vulva bisa berwarna merah, bengkak dan mengalami lecet-lecet.

Untuk mengetahui ada tidaknya trauma atau hemoroid yang keluar, maka periksa anus dengan rectal toucher.
Laserasi dapat dikategorikan dalam :

  1. Derajat pertama: laserasi mengenai mukosa dan kulit perineum, tidak perlu dijahit.
  2. Derajat kedua: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit dan jaringan perineum (perlu dijahit).
  3. Derajat ketiga: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit, jaringan perineum dan spinkter ani.
  4. Derajat empat: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit, jaringan perineum dan spinkter ani yang meluas hingga ke rektum. Rujuk segera.

gambar 1 laserasi perineum

Prinsip Penjahitan Luka Episiotomi / Laserasi Perineum

Indikasi Episiotomi

  1. Gawat janin
  2. Persalinan per vaginam dengan penyulit (sungsang, tindakan vakum ataupun forsep).
  3. Jaringan parut (perineum dan vagina) yang menghalangi kemajuan persalinan.

Tujuan Penjahitan

  1. Untuk menyatukan kembali jaringan yang luka.
  2. Mencegah kehilangan darah.

Keuntungan Teknik Jelujur

Selain teknik jahit satu-satu, dalam penjahitan digunakan teknik penjahitan dengan model jelujur. Adapun keuntungannya adalah:

Hal Yang Perlu Diperhatikan

Dalam melakukan penjahitan perlu diperhatikan tentang:

  1. Laserasi derajat satu yang tidak mengalami perdarahan, tidak perlu dilakukan penjahitan.
  2. Menggunakan sedikit jahitan.
  3. Menggunakan selalu teknik aseptik.
  4. Menggunakan anestesi lokal, untuk memberikan kenyamanan ibu.

gambar 2 teknik anestesi

Penggunaan Anestesi Lokal

  • Ibu lebih merasa nyaman (sayang ibu).
  • Bidan lebih leluasa dalam penjahitan.
  • Lebih cepat dalam menjahit perlukaannya (mengurangi kehilangan darah).
  • Trauma pada jaringan lebih sedikit (mengurangi infeksi).
  • Cairan yang digunakan: Lidocain 1 %.

Tidak Dianjurkan Penggunaan

Lidocain 2 % (konsentrasinya terlalu tinggi dan menimbulkan nekrosis jaringan).
Lidocain dengan epinephrine (memperlambat penyerapan lidocain dan memperpanjang efek kerjanya).

Nasehat Untuk Ibu

Setelah dilakukan penjahitan, bidan hendaklah memberikan nasehat kepada ibu. Hal ini berguna agar ibu selalu menjaga dan merawat luka jahitannya. Adapun nasehat yang diberikan diantaranya:

  • Menjaga perineum ibu selalu dalam keadaan kering dan bersih.
  • Menghindari penggunaan obat-obat tradisional pada lukanya.
  • Mencuci perineum dengan air sabun dan air bersih sesering mungkin.
  • Menyarankan ibu mengkonsumsi makanan dengan gizi yang tinggi.
  • Menganjurkan banyak minum.
  • Kunjungan ulang dilakukan 1 minggu setelah melahirkan untuk memeriksa luka jahitan.

Pemantauan Kala IV

Saat yang paling kritis pada ibu pasca melahirkan adalah pada masa post partum. Pemantauan ini dilakukan untuk mencegah adanya kematian ibu akibat perdarahan. Kematian ibu pasca persalinan biasanya tejadi dalam 6 jam post partum. Hal ini disebabkan oleh infeksi, perdarahan dan eklampsia post partum. Selama kala IV, pemantauan dilakukan 15 menit pertama setelah plasenta lahir dan 30 menit kedua setelah persalinan.

Setelah plasenta lahir, berikan asuhan yang berupa :

  1. Rangsangan taktil (massase) uterus untuk merangsang kontraksi uterus.
  2. Evaluasi tinggi fundus uteri – Caranya : letakkan jari tangan Anda secara melintang antara pusat dan fundus uteri. Fundus uteri harus sejajar dengan pusat atau dibawah pusat.
  3. Perkirakan darah yang hilang secara keseluruhan.
  4. Pemeriksaan perineum dari perdarahan aktif (apakah dari laserasi atau luka episiotomi).
  5. Evaluasi kondisi umum ibu dan bayi.
  6. Pendokumentasian.
Penilaian Klinik Kala IV
NoPenilaianKeterangan
1Fundus dan kontraksi uterusRangsangan taktil uterus dilakukan untuk merangsang terjadinya kontraksi uterus yang baik. Dalam hal ini sangat penting diperhatikan tingginya fundus uteri dan kontraksi uterus.
2Pengeluaran pervaginamPendarahan: Untuk mengetahui apakah jumlah pendarahan yang terjadi normal atau tidak. Batas normal pendarahan adalah 100-300 ml.
Lokhea: Jika kontraksi uterus kuat, maka lokea tidak lebih dari saat haid.
3Plasenta dan selaput ketubanPeriksa kelengkapannya untuk memastikan ada tidaknya bagian yang tersisa dalam uterus.
4Kandung kencingYakinkan bahwa kandung kencing kosong. Hal ini untuk membantu involusio uteri
5PerineumPeriksa ada tidaknya luka / robekan pada perineum dan vagina.
6Kondisi ibuPeriksa vital sign, asupan makan dan minum.
7Kondisi bayi baru lahirApakah bernafas dengan baik?
Apakah bayi merasa hangat?
Bagaimana pemberian ASI?
Diagnosis
NoKategoriKeterangan
1Involusi normalTonus – uterus tetap berkontraksi.
Posisi – TFU sejajar atau dibawah pusat.
Perdarahan – dalam batas normal (100-300ml).
Cairan – tidak berbau.
2Kala IV dengan penyulitSub involusikontraksi uterus lemah, TFU diatas pusat.
Perdarahan – atonia, laserasi, sisa plasenta / selaput ketuban.

Bentuk Tindakan Dalam Kala IV

Tindakan Baik:

  1. Mengikat tali pusat.
  2. Memeriksa tinggi fundus uteri.
  3. Menganjurkan ibu untuk cukup nutrisi dan hidrasi.
  4. Membersihkan ibu dari kotoran.
  5. Memberikan cukup istirahat.
  6. Menyusui segera.
  7. Membantu ibu ke kamar mandi.
  8. Mengajari ibu dan keluarga tentang pemeriksaan fundus dan tanda bahaya baik bagi ibu maupun bayi.

Tindakan Yang Tidak Bermanfaat:

  1. Tampon vagina – menyebabkan sumber infeksi.
  2. Pemakaian gurita – menyulitkan memeriksa kontraksi.
  3. Memisahkan ibu dan bayi.
  4. Menduduki sesuatu yang panas – menyebabkan vasodilatasi, menurunkan tekanan darah, menambah perdarahan dan menyebabkan dehidrasi.

Pemantauan Lanjut Kala IV

Hal yang harus diperhatikan dalam pemantauan lanjut selama kala IV adalah :

  1. Vital sign – Tekanan darah normal < 140/90 mmHg; Bila TD < 90/ 60 mmHg, N > 100 x/ menit (terjadi masalah); Masalah yang timbul kemungkinan adalah demam atau perdarahan.
  2. Suhu – S > 380 C (identifikasi masalah); Kemungkinan terjadi dehidrasi ataupun infeksi.
  3. Nadi
  4. Pernafasan
  5. Tonus uterus dan tinggi fundus uteriKontraksi tidak baik maka uterus teraba lembek; TFU normal, sejajar dengan pusat atau dibawah pusat; Uterus lembek (lakukan massase uterus, bila perlu berikan injeksi oksitosin atau methergin).
  6. PerdarahanPerdarahan normal selama 6 jam pertama yaitu satu pembalut atau seperti darah haid yang banyak. Jika lebih dari normal identifikasi penyebab (dari jalan lahir, kontraksi atau kandung kencing).
  7. Kandung kencing – Bila kandung kencing penuh, uterus berkontraksi tidak baik.

Tanda Bahaya Kala IV

Selama kala IV, bidan harus memberitahu ibu dan keluarga tentang tanda bahaya:

  1. Demam.
  2. Perdarahan aktif.
  3. Bekuan darah banyak.
  4. Bau busuk dari vagina.
  5. Pusing.
  6. Lemas luar biasa.
  7. Kesulitan dalam menyusui.
  8. Nyeri panggul atau abdomen yang lebih dari kram uterus biasa.

Referensi

Draft, Acuan Pelatihan Pelayanan Dasar Kebidanan.
Dep.Kes. RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal, Jakarta.
blog.asuhankeperawatan.com/414askep/mekanisme-persalinan-normal/
mitrariset.com/2009/04/persalinan.html
Mochtar, R, 1998, Sinopsis Obstetri, Edisi 2 Jilid 1, EGC, Jakarta.
Pusdiknakes, 2003, Buku 3 Asuhan Intrapartum, Jakarta.
Sarwono, P, 2003, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal, YBP SP, Jakarta.
Scoot, J, dkk, 2002, Dandorft Buku Saku Obstetri Dan Ginekologi, Cetakan I, Widya Merdeka, Jakarta.
Image, sulekha.com

Kata Kunci

kala 4, derajat laserasi, kala 4 persalinan, kala IV, persalinan kala 4, askeb persalinan normal, kala IV persalinan, fisiologi kala IV, fisiologi kala 4, asuhan kala 4, pemantauan kala IV, asuhan kala iv, perineum, penyulit kala 4, pemantauan kala 4, askep kala 4, askep persalinan normal, asuhan persalinan kala 4, derajat robekan perineum, pengertian kala 4, derajat laserasi perineum, episiotomi, pemantauan selama kala IV, asuhan persalinan kala IV, tanda bahaya kala 4.

Askeb II (Persalinan)
© LUSA.web.id   |   Share :  
lusa

About the author

Pengajar dan pendidik aktif di perguruan tinggi di Yogyakarta dan Surakarta. Selain itu, juga seorang praktisi kesehatan di Yogyakarta. Menghabiskan waktu luang berkumpul bersama keluarga (suami & anak) serta menulis di lusa.web.id.

32 Responses to “Kala IV”

  1. ugha says:

    askep kala III nya mana ya????

  2. cholif says:

    terimakasih jd tbah th, punya anamnesa pada ibu bersalin ceklis?

  3. ria says:

    thanks ya……
    jd bisa tau banyak…
    :)

  4. iis says:

    mint datanya ya bu,,

  5. Adinda says:

    Apakah hasil USG itu Akurat????? Berapa persen keakuratannya??????
    Terima kasih

    • lusa says:

      @Adinda

      Macam dari USG banyak sekali.. Apa yang mbak “Adinda” USG untuk obstetri dan ginekologi?

      Namun demikian, banyak refernsi yang menyatakan bahwa hasil USG tidak selalu benar. Keakuratannya tidak ada yang 100 persen. Efektifitas USG sangat tergantung pada :
      1. Kualitas peralatan yang digunakan.
      2. Skill, pengetahuan dan pengalaman dari yang menggunakan (petugas kesehatan).
      3. Metode yang diadopsi dalam melakukan USG.
      4. Ketepatan tempat dilakukan USG.

      Banyak sekali referensi yang berbicara tentang USG, karna USGpun banyak macamnya. Ini ada beberapa referensi yang mungkin dapat membantu mbak “Adinda”, belajar tentang USG:

      en.wikipedia.org/wiki/Medical_ultrasonography
      en.wikipedia.org/wiki/Obstetric_ultrasonography
      ob-ultrasound.net
      medicinenet.com/ultrasound/article.htm

      Semoga yang sedikit ini, bisa membantu mbak “Adinda”… Selamat belajar..

  6. Diana says:

    ka,
    ada punya gambar2 luka akibat persalinan ga.?
    perluu bnget nh buat tugaz kul.

    • lusa says:

      @Diana

      Minta maaf “Diana”, yang dimaksud luka akibat persalinan yang mana?
      Apakah luka persalinan normal, luka dengan episiotomi atau akibat SC?

      Kalo yang dimaksud luka persalinan normal (laserasi perineum), dalam tulisan ini sdh ada.. bisa dibaca kembali..

  7. asri says:

    trimakasih berkat blog kk’ sya bisa menyelesaikan tugas kuliah…

  8. Fera says:

    tank ya dah bantuin kita2 buat referensi tugas

  9. tarra says:

    ksana ksini kok gag pernah nmuin askeb yaaaa…..yg kasus gt, adanya cm LP doang

  10. RARA says:

    THANK ATAS BG2 ILMUNYA….

  11. nora says:

    maKasie Mba’,,..

    sangat membaNtu daLam menyeLesaiKan tugas,..
    ^_*

  12. meldayetti says:

    trimakasih buk lusa ,atas semua catatannya ,buk ngajar dimana sich…?

    • lusa says:

      Kembali kasih “meldayetti”… Semoga catatannya bisa bermanfaat..

      Ngajar??… Hehehe.. Masih juga belajar kok..

  13. fitri says:

    mbak,tanggal 11september kemaren aq lairan,normal di bidan. tgl 17september aq pendarahan dan keluar daging2gitu, setelah di usg,kata dokter masih ada sisa plasenta di rahim,trus dikuret.
    nah,kata bidannya jahitanq itu 50 lebih,soalnya q ga bisa ngeden.ini udah sebulan lebih tapi kok jaitannya masih terasa ngilu ya kalau dibuat jalan?
    kata dokter pas tanggal 17 kemaren sih jaitannya udah bagus.
    trus dua hari ini aq keluar keputihan.warnanya putih kekuningan,ga berbau. kemarin sih ga keluar darah tapi hari ini ada darahnya juga sedikit. normalkah itu?
    sebelum hamil biasanya aq keputihan sebelum dan sesudah mens.
    trus kemarin pas mo kencing, di vaginaku ada kek benda keras mirip benang warnanya itam campur kuning campur merah darah sedikit. kata suamiku mirip jahitan lahiran trus aq suruh liatin miss v nya, katanya yang bagian luar jaitannya utuh cuma terkelupas dikit. suami bilang mungin itu bekas jaitan di dalam. bener ga mbak?
    trus setelah kuret kemaren, kok keluar darahnya deras lagi ya? aq udah cemas gitu, takut kalau pendarahan lagi,trus kata bidan: udah di usg lagi kan?udah bersih kan?kalau udah bersih berarti udah kembali kek siklus mens dan katanya gpp. betulkah mbak?
    tanggal 5 oktober kemaren aq cek lagi ke dokter dan di usg aja,katanya rahim dah bersih karena warna rahim di usg hitam.

    maaf banget buanyak tanyanya….makasih sebelumnya ya mbak..

    • lusa says:

      Waduw.. Diberondong pertanyaan nich..
      Ya.. Kita jawab satu persatu ya mbak..

      1. Perdarahan yang terjadi pada 6 hari pasca persalinan disebut perdarahan postpartum lanjut. Salah satu penyebabnya adalah sisa plasenta yang ada di rahim, dan penanganannya dilakukan kuretase karena jalan lahir sudah menutup. Bisa baca lebih lanjut tentang perdarahan pasca persalinan di http://www.lusa.web.id/perdarahan-post-partum-perdarahan-pasca-persalinan/

      2. Luka jahitan perineum ada 4 derajat. Baca kembali http://www.lusa.web.id/kala-iv/
      Proses penyembuhan luka tergantung dari beberapa faktor antara lain: kemampuan tubuh menangani trauma jaringan; pola nutrisi yang baik; aliran darah ke dan dari jaringan yang luka; keutuhan kulit dan membran mukosa; serta luka terbebas dari infeksi dan perdarahan.
      Jika tidak ada infeksi luka jahitan pada kulit dapat sembuh sekitar 3 sampai 7 hari. Jika benang jahitan tidak diangkat sesuai jadwal juga dapat meperlambat penyembuhan disamping juga menjadi sumber infeksi baru melalui benang jahitan itu.
      Luka jahitan akan terasa nyeri, diakibatkan terputusnya jaringan syaraf dan jaringan otot. Mobilisasi/ pergerakan sering akan mengurangi rasa nyeri dan sirkulasi darah pada luka menjadi lancar.
      Ya.. baguslah kalo luka jahitan sekarang sudah bagus..

      3. Darah yang keluar setelah melahirkan disebut lokia. Lokia selama nifas akan mengalami perubahan. Setelah nifas selesai, wanita dapat langsung mengalami menstruasi akibat perubahan sistem hormon dari hipotalamik pituitary ovarium.
      Apa yang mba Fitri alami masih normal apabila darah yang keluar berangsur-angsur sedikit kemudian tidak keluar lagi darahnya. Coba baca artikel di http://www.lusa.web.id/perubahan-fisiologis-masa-nifas-pada-sistem-endokrin/

      4. Benang jahit yang digunakan untuk menjahit luka pada jalan lahir disesuaikan dengan daerahnya. Jenis benang jahit ada yang dapat terabsobsi dan lepas dengan sendirinya, ada juga yang yang harus diambil oleh tenaga kesehatan.
      Bisa saja yang mba temukan ketika buang air kecil adalah benang yang digunakan pada waktu menjahit luka jalan lahir mba..

      5. Jika tindakan kuretase dilakukan pada tanggal 17 September, kemungkinan masih darah nifas. Jika pengeluaran darah setelah kuret berangsur-angsur sedikit kemudian tidak keluar, merupakan hal normal. Jika selesai nifas kemudian keluar darah lagi, kemungkinan juga sudah memasuki siklus menstruasi. Tetapi, darah yang juga harus diperhatikan lho mba..

      Semoga penjelasannya, bisa dimengerti… dan selamat menjadi ibu, semoga ibu-bayi dan keluarga selalu diberi sehat..

  14. anna marut says:

    mksiih eaa mbaaa…. blog”nya bermanfaat sekalii….

  15. aryani says:

    ka,,,mnta bantuannya dong,, aq mau PKMD gmna ya?? aq anak kebidanan,,

Leave a Reply