Belajar metode ovulasi billings dari Dr. E.L. Billings AM, MBBS, DCH (Lond) dalam “The Correlation of Physiological Events of The Female Reproductive Cycle with Observations Made at The Vulva”.
Fase Luteal
Fase luteal terjadi sejak hari ke-4 sesudah puncak (hari terakhir rasa licin pada vulva), leher rahim tertutup dengan gumpalan lendir kental yang mencegah sel sperma masuk ke rongga rahim. Korpus luteum dalam indung telur memproduksi estrogen dan progesteron. Bila tidak ada segala bentuk kontak alat kelamin sejak awal titik perubahan hingga awal harl ke-4 sesudah Puncak, maka sel telur tidak mungkin dibuahi dan akan hancur dalam saluran telur (lihat gambar 10).
Read more…
Categories: KB Tags: endometrium, estrogen, fase luteal, fase pra ovulasi, hubungan seksual, indung telur, kehamilan, kontrasepsi, korpus luteum, laktasi, leher rahim, menopause, menstruasi, metode mukosa serviks, ovulasi, pola dasar tidak subur, pola subur, pre menopause, progesteron, puncak, rahim, reproduksi wanita, saluran telur, sel telur, serviks, sperma, vulva
Belajar metode ovulasi billings dari Dr. E.L. Billings AM, MBBS, DCH (Lond) dalam “The Correlation of Physiological Events of The Female Reproductive Cycle with Observations Made at The Vulva”.
Indung telur memproduksi estrogen semakin banyak. Lendir yang berubah dari sifat lengket menimbulkan rasa basah dan licin. Hal ini bisa dilihat benang-benang lendir yang jernih. Kemungkinan kuantitas lendir dapat berkurang, tetapi rasa licin dan semakin licin tetap berlangsung satu dua hari lagi. Hari terakhir perasaan licin adalah hari paling subur dalam siklus yang disebut Puncak. Puncak adalah hari kesuburan disertai dengan peningkatan kepekaan dan pembengkakan vulva (lihat gambar 8).
Read more…
Categories: KB Tags: corpus luteum, estrogen, folikel, hormon, kantong shaw, karsinoma indung telur, leher rahim, lendir serviks, metode ovulasi billings, ovulasi, ovum, progesteron, puncak, siklus reproduksi wanita, sperma, vagina, vulva
Belajar metode ovulasi billings dari Dr. E.L. Billings AM, MBBS, DCH (Lond) dalam “The Correlation of Physiological Events of The Female Reproductive Cycle with Observations Made at The Vulva”.
Pola Dasar Tidak Subur
Pola Dasar Tidak Subur (PDTS) adalah pola yang sama sekali tidak berubah karena leher rahim tidak aktif. Pola dasar tidak subur pada siklus biasa dapat diketahui melalui tanda-tanda sebagai berikut:
- Keadaan yang tetap kering yang tidak berubah (lihat gambar 4 pada metode mukosa serviks part 2).
- Vulva terasa kering meskipun tampak sedikit lendir yang sifatnya tidak berubah sama sekali setiap hari.
Gambar 5 menunjukkan PDTS berlendir. Tiga siklus berturut-turut dengan PDTS berlendir yang sama diamati (5a, 5b, dan 5c). Hal yang sangat penting adalah kemampuan untuk mengenali dengan tepat saat titik perubahan (i) rasa atau (ii) sifat lendir, ataupun keduanya.
Read more…
Categories: KB Tags: awal kesuburan, estrogen, indung telur, lendir serviks, masa subur, metode mukosa serviks, pola dasar tidak subur, rahim, serviks, sperma, titik perubahan, vulva
Belajar metode ovulasi billings dari Dr. E.L. Billings AM, MBBS, DCH (Lond) dalam “The Correlation of Physiological Events of The Female Reproductive Cycle with Observations Made at The Vulva”.
Siklus Reproduksi Wanita dan Pengamatan Vulva
Perlu kita mengingat kembali tentang anatomi reproduksi wanita. Bagian-bagian yang perlu diperhatikan antara lain:
- Rongga rahim, sebagai tempat bayi.
- Leher rahim (serviks), yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup sel sperma.
- Vagina, kantong-kantong shaw.
- Alat kelamin bagian luar (vulva), yang merasakan keberadaan lendir saat mengalir dari vagina.
- Indung telur (ovarium), yang mengandung sel-sel telur. Folikel-folikel dalam ovarium menghasilkan hormon-hormon yang bertanggung jawab atas pertumbuhan endometrium dalam proses kehamilan. Selain itu, mengaktifkan kelenjar leher rahim untuk memproduksi lendir dan mengakibatkan perubahan lain selama siklus yang menyangkut fungsi vagina dan sel telur (ovum).
Read more…
Categories: KB Tags: anatomi, endometrium, hubungan seksual, implantasi, kehamilan, konsepsi, menstruasi, metode ovulasi billings, nidasi, ovarium, ovulasi, ovum, perdarahan, pola dasar tidak subur, pola subur, puncak, rahim, reproduksi wanita, serviks, sperma, vagina, vulva
Metode mukosa serviks atau ovulasi billings ini dikembangkan oleh Drs. John, Evelyn Billings dan Fr Maurice Catarinich di Melbourne, Australia dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Metode ini tidak menggunakan obat atau alat, sehingga dapat diterima oleh pasangan taat agama dan budaya yang berpantang dengan kontrasepsi modern.
Metode mukosa serviks atau metode ovulasi merupakan metode keluarga berencana alamiah (KBA) dengan cara mengenali masa subur dari siklus menstruasi dengan mengamati lendir serviks dan perubahan rasa pada vulva menjelang hari-hari ovulasi.
Esensi Metode Mukosa Serviks
Lendir/mukosa seviks adalah lendir yang dihasilkan oleh aktivitas biosintesis sel sekretori serviks dan mengandung tiga komponen penting yaitu:
- Molekul lendir.
- Air.
- Senyawa kimia dan biokimia (natrium klorida, rantai protein, enzim, dll).
Read more…
Categories: KB Tags: kehamilan, konsepsi, kontrasepsi, kontrasepsi darurat, kontrasepsi hormonal, masa subur, menstruasi, menyusui, metode keluarga berencana alamiah, metode kontrasepsi modern, metode mukosa serviks, metode simptothermal, ovulasi, ovulasi billings, ovum, penyakit menular seksual, perimenopause, pola dasar tidak subur, pola subur, rahim, reproduksi wanita, senggama, serviks, sperma, spermisida, vagina, vaginitis, vulva
Pengertian
Spermisida adalah alat kontrasepsi yang mengandung bahan kimia (non oksinol-9) yang digunakan untuk membunuh sperma.
Jenis
Jenis spermisida terbagi menjadi:
- Aerosol (busa).
- Tablet vagina, suppositoria atau dissolvable film.
- Krim.
Read more…
Categories: KB Tags: aerosol, asi, diafragma, HBV, HIV/ AIDS, hubungan seksual, infeksi saluran uretra, insersi, kehamilan, kondom, kontrasepsi, kontrasepsi hormonal, kontrasepsi vagina film, metode KB efektif, metode sederhana, penis, penyakit menular seksual, resiko tinggi, senggama, sperma, spermisida, suppositoria, syok, vagina, vaginitis, vulva
Diafragma dirancang aman dan disesuaikan vagina untuk menutupi serviks. Diafragma merupakan kap berbentuk bulat, cembung, terbuat dari lateks (karet) yang dapat dibengkokkan. Alat kontrasepsi metode barier yang berupa diafragma ini mempunyai cara kerja sebagai berikut:
- Mencegah masuknya sperma melalui kanalis servikalis ke uterus dan saluran telur (tuba falopi).
- Sebagai alat untuk menempatkan spermisida.
Efektifitas diafragma untuk mencegah kehamilan sekitar 94% bila wanita selalu menggunakannya dan 84% bila wanita tidak selalu menggunakannya. Selain itu, diafragma akan efektif apabila cara menggunakannya benar dan tepat.
Dibawah ini merupakan cara pemakaian alat kontrasepsi metode barier diafragma.
Read more…
Categories: KB Tags: diafragma, hubungan seksual, kanalis servikalis, kehamilan, kontrasepsi, metode barier, serviks, spermisida, tuba fallopi, uterus, vagina, vulva
Perubahan Ligamen
Setelah bayi lahir, ligamen dan diafragma pelvis fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan saat melahirkan, kembali seperti sedia kala. Perubahan ligamen yang dapat terjadi pasca melahirkan antara lain: ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi; ligamen, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor.
Perubahan pada Serviks
Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor, terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal ini disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga perbatasan antara korpus dan serviks uteri berbentuk cincin. Warna serviks merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah. Segera setelah bayi dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukan 2–3 jari dan setelah 1 minggu hanya 1 jari saja yang dapat masuk.
Read more…
Categories: Askeb III (Nifas) Tags: bayi, desidua, diafragma, fasia, genetalia, himen, involusi, karankulae mitiformis, kontraksi, leukosit, ligamen, ligamentum rotundum, lokia, lokia alba, lokia rubra, lokia sanguilenta, lokia serosa, multipara, ostium eksternum, pelvis, perineum, plasenta, postpartum, retraksi, retrofleksi, rugae, serviks, uterus, vagina, verniks caseosa, vulva