Cara Minum Pil Kombinasi
Pil kombinasi terbagi dalam berbagai merk, dan biasanya di dalammya terdapat brosur tentang cara pemakaiannya. Sebelum menggunakan pil kombinasi, baca dengan seksama dan pahami bagaimana minum pil dalam keadaan khusus.
Catatan:
Tunjukkan cara mengeluarkan pil dari kemasannya dan pesankan untuk mengikuti anak panah (sesuai hari) yang menunjuk deretan pil berikutnya.
Petunjuk Umum
Berikut ini adalah panduan penggunaan pil kombinasi secara umum:
- Pil kombinasi sebaiknya diminum setiap hari pada saat yang sama.
- Pil yang pertama dimulai pada hari pertama sampai hari ke tujuh siklus haid.
- Penggunaan pil kombinasi dianjurkan diminum pada hari pertama haid.
- Pada kemasan 28 pil, dianjurkan mulai minum pil plasebo sesuai dengan hari yang ada pada kemasan.
- Bila kemasan 28 pil habis, sebaiknya mulai minum pil dari kemasan yang baru.
- Bila kemasan 21 pil habis, tunggu 1 minggu kemudian mulai minum pil dari kemasan yang baru.
- Minum pil yang lain, apabila terjadi muntah dalam waktu 2 jam setelah meminumnya.
- Penggunaan pil kombinasi dapat diteruskan, apabila tidak memperburuk keadaan saat terjadi muntah hebat atau diare lebih dari 24 jam.
- Penggunaan pil apabila terjadi muntah dan diare berlangsung sampai 2 hari atau lebih sama dengan aturan minum pil lupa.
- Tes kehamilan dilakukan apabila tidak haid.
Read more…
Categories: KB Tags: combination oral contraceptive pill, diare, haid, hubungan seksual, kehamilan, keluarga berencana, kenseling, KIE, kontrasepsi, menyusui, metode barier, muntah, pil kombinasi, post partum
Waktu Mulai Menggunakan Mini Pil
Mini pil mulai dapat digunakan pada hari pertama sampai hari ke lima pada siklus haid (tidak memerlukan metode kontrasepsi lain) apabila:
- Lebih dari 6 minggu pasca persalinan dan pasien telah mendapat haid.
- Pasien sebelumnya menggunakan kontrasepsi non hormonal dan ingin ganti dengan mini pil.
- Pasien sebelumnya menggunakan AKDR (termasuk AKDR yang mengandung hormon).
Mini pil mulai dapat digunakan setiap saat apabila:
- Diduga tidak terjadi kehamilan.
- Pasien mengalami amenorea (tidak haid) dan dipastikan tidak hamil (sebaiknya jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau gunakan kontrasepsi lain untuk 2 hari).
- Menyusui antara 6 minggu dan 6 bulan pasca persalinan dan tidak haid (bila menyusui penuh, tidak memerlukan kontrasepsi tambahan).
Read more…
Categories: KB Tags: AKDR, haid, HBV, hipertensi, HIV/AIDS, hubungan seksual, kehamilan, kehamilan ektopik, kondom, kontrasepsi, kontrasepsi suntikan, menyusui, metode barier, mini pil, pasca persalinan, payudara, pil progestin, post partum, spermisida
Pil kombinasi atau combination oral contraceptive pill adalah pil KB yang mengandung hormon estrogen dan progesteron.
Gambar. Pil kombinasi kemasan 28 pil
Pil KB kombinasi mengandung hormon aktif dan hormon tidak aktif, termasuk:
Read more…
Categories: KB Tags: abortus, amenorea, anemia, bifasik, dismenorea, endometriosis, estrogen, haid, Hepatitis B, HIV/AIDS, hubungan seksual, implantasi, kanker endometrium, kanker ovarium, kehamilan, kehamilan ektopik, keluarga berencana, kontrasepsi, kontrasepsi darurat, lendir serviks, menopause, menyusui, monofasik, ovulasi, ovum, penyakit menular seksual, penyakit radang panggul, perdarahan, pil, pil kombinasi, plasebo, post partum, pre menstrual tension, progesteron, trifasik
Belajar metode ovulasi billings dari Dr. E.L. Billings AM, MBBS, DCH (Lond) dalam “The Correlation of Physiological Events of The Female Reproductive Cycle with Observations Made at The Vulva”.
Fase Luteal
Fase luteal terjadi sejak hari ke-4 sesudah puncak (hari terakhir rasa licin pada vulva), leher rahim tertutup dengan gumpalan lendir kental yang mencegah sel sperma masuk ke rongga rahim. Korpus luteum dalam indung telur memproduksi estrogen dan progesteron. Bila tidak ada segala bentuk kontak alat kelamin sejak awal titik perubahan hingga awal harl ke-4 sesudah Puncak, maka sel telur tidak mungkin dibuahi dan akan hancur dalam saluran telur (lihat gambar 10).
Read more…
Categories: KB Tags: endometrium, estrogen, fase luteal, fase pra ovulasi, hubungan seksual, indung telur, kehamilan, kontrasepsi, korpus luteum, laktasi, leher rahim, menopause, menstruasi, metode mukosa serviks, ovulasi, pola dasar tidak subur, pola subur, pre menopause, progesteron, puncak, rahim, reproduksi wanita, saluran telur, sel telur, serviks, sperma, vulva
Metode simptothermal merupakan metode keluarga berencana alamiah (KBA) yang mengidentifikasi masa subur dari siklus menstruasi wanita. Metode simptothermal mengkombinasikan metode suhu basal tubuh dan mukosa serviks. Tetapi ada teori lain yang menyatakan bahwa metode ini mengamati tiga indikator kesuburan yaitu perubahan suhu basal tubuh, perubahan mukosa/lendir serviks dan perhitungan masa subur melalui metode kalender.
Metode simptothermal akan lebih akurat memprediksikan hari aman pada wanita daripada menggunakan salah satu metode saja. Ketika menggunakan metode ini bersama-sama, maka tanda-tanda dari satu dengan yang lainnya akan saling melengkapi.
Manfaat
Metode simptothermal memiliki manfaat sebagai alat kontrasepsi maupun konsepsi.
Manfaat Kontrasepsi
Metode simptothermal digunakan sebagai alat kontrasepsi atau menghindari kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seksual ketika berpotensi subur (pantang saat masa subur).
Read more…
Categories: KB Tags: hari puncak, hubungan seksual, kehamilan, konsepsi, kontrasepsi, kontrasepsi hormonal, lendir serviks, masa subur, metode barier, metode kalender, metode keluarga berencana alamiah, metode mukosa serviks, metode suhu basal tubuh, ovulasi, periode tidak subur sebelum ovulasi, periode tidak subur setelah ovulasi, senggama, siklus menstruasi, vagina
Belajar metode ovulasi billings dari Dr. E.L. Billings AM, MBBS, DCH (Lond) dalam “The Correlation of Physiological Events of The Female Reproductive Cycle with Observations Made at The Vulva”.
Siklus Reproduksi Wanita dan Pengamatan Vulva
Perlu kita mengingat kembali tentang anatomi reproduksi wanita. Bagian-bagian yang perlu diperhatikan antara lain:
- Rongga rahim, sebagai tempat bayi.
- Leher rahim (serviks), yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup sel sperma.
- Vagina, kantong-kantong shaw.
- Alat kelamin bagian luar (vulva), yang merasakan keberadaan lendir saat mengalir dari vagina.
- Indung telur (ovarium), yang mengandung sel-sel telur. Folikel-folikel dalam ovarium menghasilkan hormon-hormon yang bertanggung jawab atas pertumbuhan endometrium dalam proses kehamilan. Selain itu, mengaktifkan kelenjar leher rahim untuk memproduksi lendir dan mengakibatkan perubahan lain selama siklus yang menyangkut fungsi vagina dan sel telur (ovum).
Read more…
Categories: KB Tags: anatomi, endometrium, hubungan seksual, implantasi, kehamilan, konsepsi, menstruasi, metode ovulasi billings, nidasi, ovarium, ovulasi, ovum, perdarahan, pola dasar tidak subur, pola subur, puncak, rahim, reproduksi wanita, serviks, sperma, vagina, vulva
Pendahuluan
Metode kalender atau pantang berkala merupakan metode keluarga berencana alamiah (KBA) yang paling tua. Pencetus KBA sistem kalender adalah dr. Knaus (ahli kebidanan dari Vienna) dan dr. Ogino (ahli ginekologi dari Jepang). Metode kalender ini berdasarkan pada siklus haid/menstruasi wanita.
Knaus berpendapat bahwa ovulasi terjadi tepat 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Sedangkan Ogino berpendapat bahwa ovulasi tidak selalu terjadi tepat 14 hari sebelum menstruasi, tetapi dapat terjadi antara 12 atau 16 hari sebelum menstruasi berikutnya. Hasil penelitian kedua ahli ini menjadi dasar dari KBA sistem kalender.
Pengertian
Metode kalender atau pantang berkala adalah cara/metode kontrasepsi sederhana yang dilakukan oleh pasangan suami istri dengan tidak melakukan senggama atau hubungan seksual pada masa subur/ovulasi.
Read more…
Categories: KB Tags: Fertility phase, hubungan seksual, KBA, kehamilan, keluarga berencana, konsepsi, kontrasepsi, lendir serviks, masa subur, masa tidak subur, menstruasi, metode keluarga berencana alamiah, metode sederhana, metode simptothermal, mukus, ovulasi, Post ovulatory infertility phase, Pre ovulatory infertility phase, saluran reproduksi, senggama, sperma
Nama lain dari coitus interuptus adalah senggama terputus atau ekspulsi pra ejakulasi atau pancaran ekstra vaginal atau withdrawal methods atau pull-out method. Dalam bahasa latin disebut juga interrupted intercourse.
Pengertian
Coitus interuptus atau senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional/alamiah, di mana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum mencapai ejakulasi.

Read more…
Categories: KB Tags: air mani, asi, ejakulasi, hubungan seksual, kehamilan, keluarga berencana, Kesehatan Reproduksi, KIE, kontrasepsi, masa subur, metode alami, orgasme, ovum, penetrasi, penis, penyakit menular seksual, senggama, sperma, vagina
Spermisida merupakan alat kontrasepsi sederhana yang mengandung zat kimia untuk membunuh sperma, dimasukkan ke dalam vagina sebelum melakukan hubungan seksual untuk mencegah kehamilan. Sebagai alat kontrasepsi, spermisida dapat digunakan sendiri. Namun demikian, akan jauh lebih efektif bila dikombinasikan dengan alat kontrasepsi lain seperti kondom, diafragma, cervical caps ataupun spons. Bentuk spermisida bermacam-macam, antara lain: aerosol (busa), krim dan jeli, vaginal contraceptive film/tissue, maupun suppositoria.
Contraceptive Technology menyatakan bahwa angka kegagalan dari alat kontrasepsi spermisida ini 18 persen per tahun apabila digunakan dengan benar dan konsisten dan 29 persen apabila digunakan tidak sesuai petunjuk dan kurang berkesinambungan.
Read more…
Categories: KB Tags: aerosol, cervical caps, diafragma, hubungan seksual, insersi, kanalis servikalis, kehamilan, kondom, kontrasepsi, metode sederhana, serviks, sperma, spermisida, spons, suppositoria, vagina, vaginal contraceptive film
Pengertian
Spermisida adalah alat kontrasepsi yang mengandung bahan kimia (non oksinol-9) yang digunakan untuk membunuh sperma.
Jenis
Jenis spermisida terbagi menjadi:
- Aerosol (busa).
- Tablet vagina, suppositoria atau dissolvable film.
- Krim.
Read more…
Categories: KB Tags: aerosol, asi, diafragma, HBV, HIV/ AIDS, hubungan seksual, infeksi saluran uretra, insersi, kehamilan, kondom, kontrasepsi, kontrasepsi hormonal, kontrasepsi vagina film, metode KB efektif, metode sederhana, penis, penyakit menular seksual, resiko tinggi, senggama, sperma, spermisida, suppositoria, syok, vagina, vaginitis, vulva