Volume darah normal yang diperlukan plasenta dan pembuluh darah uterin, meningkat selama kehamilan. Diuresis terjadi akibat adanya penurunan hormon estrogen, yang dengan cepat mengurangi volume plasma menjadi normal kembali. Meskipun kadar estrogen menurun selama nifas, namun kadarnya masih tetap tinggi daripada normal. Plasma darah tidak banyak mengandung cairan sehingga daya koagulasi meningkat.
Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama masa ini ibu mengeluarkan banyak sekali jumlah urin. Hilangnya progesteron membantu mengurangi retensi cairan yang melekat dengan meningkatnya vaskuler pada jaringan tersebut selama kehamilan bersama-sama dengan trauma selama persalinan.
Read more…
Categories: Askeb III (Nifas) Tags: dekompensasi kordis, diuresis, estrogen, hemokonsentrasi, koagulasi, persalinan, persalinan per vaginam, persalinan seksio sesarea, plasenta, plasma darah, post partum, progesteron, retensi cairan, shunt, vaskuler, vitum cordia, volume darah
Pada minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma serta faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah.
Leukositosis adalah meningkatnya jumlah sel-sel darah putih sebanyak 15.000 selama persalinan. Jumlah leukosit akan tetap tinggi selama beberapa hari pertama masa post partum. Jumlah sel darah putih akan tetap bisa naik lagi sampai 25.000 hingga 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama.
Read more…
Categories: Askeb III (Nifas) Tags: eritrosit, fibrinogen, hematokrit, leukosit, leukositosis, nifas, pembekuan darah, persalinan lama, plasenta, plasma, post partum, sistem hematologi, status gizi, viskositas, volume darah
Pada masa nifas, tanda-tanda vital yang harus dikaji antara lain:
- Suhu badan.
- Nadi.
- Tekanan darah.
- Pernafasan.
Suhu badan.
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat Celcius. Pasca melahirkan, suhu tubuh dapat naik kurang lebih 0,5 derajat Celcius dari keadaan normal. Kenaikan suhu badan ini akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan maupun kelelahan. Kurang lebih pada hari ke-4 post partum, suhu badan akan naik lagi. Hal ini diakibatkan ada pembentukan ASI, kemungkinan payudara membengkak, maupun kemungkinan infeksi pada endometrium, mastitis, traktus genetalis ataupun sistem lain. Apabila kenaikan suhu di atas 38 derajat celcius, waspada terhadap infeksi post partum.
Read more…
Categories: Askeb III (Nifas) Tags: bradikardi, infeksi post partum, inpartu, jantung, mastitis, nadi, perdarahan post partum, pernafasan, post partum, pre eklamsia, suhu badan, syok, tanda-tanda vital, tekanan darah, traktus genetalis
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem endokrin. Hormon-hormon yang berperan pada proses tersebut, antara lain:
- Hormon plasenta.
- Hormon pituitary.
- Hipotalamik pituitary ovarium.
- Hormon oksitosin.
- Hormon estrogen dan progesteron.
Read more…
Categories: Askeb III (Nifas) Tags: asi, estrogen, FSH, hipotalamik pituitary ovarium, hormon pituitary, hormon plasenta, human chorionic gonadotropin, Human placental lactogen, involusio uteri, kehamilan, kontraksi, LH, menstruasi, oksitosin, ovulasi, persalinan, plasenta, post patum, progesteron, prolaktin, sistem endokrin, uterus
Perubahan sistem muskuloskeletal terjadi pada saat umur kehamilan semakin bertambah. Adaptasi muskuloskelatal ini mencakup: peningkatan berat badan, bergesernya pusat akibat pembesaran rahim, relaksasi dan mobilitas. Namun demikian, pada saat post partum sistem muskuloskeletal akan berangsur-angsur pulih kembali. Ambulasi dini dilakukan segera setelah melahirkan, untuk membantu mencegah komplikasi dan mempercepat involusi uteri.
Adaptasi sistem muskuloskeletal pada masa nifas, meliputi:
- Dinding perut dan peritoneum.
- Kulit abdomen.
- Striae.
- Perubahan ligamen.
- Simpisis pubis.
Read more…
Categories: Askeb III (Nifas) Tags: asthenis, diafragma pelvis, diastasis rekti, dinding perut, fasia, fisioterapi, inkontinensia alvi, inkontinensia urin, involusio uteri, kulit abdomen, ligamen, ligamentum rotundum, osteoporosis, peritoneum, post partum, prolaps uteri, rectus abdominis, retrofleksi, simpisis pubis, sistem muskuloskeletal, striae
Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan
Hal yang berkaitan dengan fungsi sistem perkemihan, antara lain:
- Hemostatis internal.
- Keseimbangan asam basa tubuh.
- Pengeluaran sisa metabolisme.
Read more…
Categories: Askeb III (Nifas) Tags: alkalosis, asidosis, cairan ekstraselular, cairan interstisial, cairan intraselular, dehidrasi, diaforesis, dieuresis, edema, ginjal, hemostatis internal, inkontinensia urin, metabolisme, perkemihan, PH, post partum, retensi urin, sfingter ani, steroid, urin
Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.
Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem pencernaan, antara lain:
- Nafsu makan.
- Motilitas.
- Pengosongan usus.
Read more…
Categories: Askeb III (Nifas) Tags: analgesia, anastesia, dehidrasi, gastrointestinal, hemoroid, huknah, konstipasi, kontraksi, laserasi perineum, motilitas, Nafsu makan, Pengosongan usus, progesteron, Sistem gastrointestinal, sistem pencernaan, tonus otot
Perubahan Ligamen
Setelah bayi lahir, ligamen dan diafragma pelvis fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan saat melahirkan, kembali seperti sedia kala. Perubahan ligamen yang dapat terjadi pasca melahirkan antara lain: ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi; ligamen, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor.
Perubahan pada Serviks
Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor, terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal ini disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga perbatasan antara korpus dan serviks uteri berbentuk cincin. Warna serviks merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah. Segera setelah bayi dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukan 2–3 jari dan setelah 1 minggu hanya 1 jari saja yang dapat masuk.
Read more…
Categories: Askeb III (Nifas) Tags: bayi, desidua, diafragma, fasia, genetalia, himen, involusi, karankulae mitiformis, kontraksi, leukosit, ligamen, ligamentum rotundum, lokia, lokia alba, lokia rubra, lokia sanguilenta, lokia serosa, multipara, ostium eksternum, pelvis, perineum, plasenta, postpartum, retraksi, retrofleksi, rugae, serviks, uterus, vagina, verniks caseosa, vulva
Perubahan alat-alat genital baik interna maupun eksterna kembali seperti semula seperti sebelum hamil disebut involusi. Bidan dapat membantu ibu untuk mengatasi dan memahami perubahan-perubahan seperti:
- Involusi uterus.
- Involusi tempat plasenta.
- Perubahan ligamen.
- Perubahan serviks.
- Lochia.
- Perubahan vulva, vagina dan perineum.
Read more…
Categories: Askeb III (Nifas) Tags: anemi, atrofi, autolysis, endometrium, enzim proteolitik, esterogen, genetalia eksterna, genetalia interna, implantasi, involusi, involusio uteri, iskemia miometrium, kavum uteri, kontraksi, lokia, oksitosin, perdarahan, plasenta, progesteron, retraksi, tinggi fundus uteri
Kehadiran anggota keluarga baru (bayi) dalam keluarga dapat menimbulkan situasi krisis terutama pada saudara-saudaranya, sehingga perlu dipersiapkan.
Pengertian Sibling Rivalry
- Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling bentuk kecil) anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atu perempuan. Disebut juga sib. Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.
- Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau lebih.
Sibling rivalry atau perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang biasa bagi anak-anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah sangat mudah terjadi sibling rivalry itu. Istilah ahli psikologi hubungan antar anak-anak seusia seperti itu bersifat ambivalent dengan love hate relationship.
Read more…
Categories: Askeb III (Nifas) Tags: adaptasi, batita, bayi, bidan, kasih sayang, orang tua, remaja, rivalry, sibling, sibling rivalry, stres, tahap perkembangan, tingkah laku